Butiran mutiara membasahi kegelapan malam itu. Malam di mana tidak ada lagi batas diantaranya. Ketika hati mulai berbicara di hadapan pemiliknya.

*****

Gadis itu kini tersungkur di atas sajadahnya.
Mencoba memasuki sebuah dimensi.

Perbincangan yang diawali dengan sebuah pengakuan. Pengakuan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. Hingga ia tidak mampu menahan terpaan butiran air mata yang mencoba keluar dari kedua mata itu .

Gadis itu kini dikuasai seutuhnya oleh sesuatu yang disebut hati. Semakin hatinya berbicara,semakin deras mutiara keindahan membasahi pipinya. Tak ada satu katapun terucap dari kedua bibirnya,melainkan air mata.  Air mata itu seakan berbicara akan kegelisahannya. Kegelisahan yang amat sangat ia rasakan. Kegelisahan yang tak seorang pun bisa mengendalikan kecuali pemiliknya.

Gadis itu masih tersungkur di atas sajadahnya.
Hingga lelap datang menghampiri.

*****

Hati itu pun kini masih tetap menangis  menatap indahnya langit sore itu. Dalam diam ia berdoa :

“Ya Rabb,izinkan malamMu memberiku jawaban atas semua kegelisahan ini,walau hanya dalam sebuah mimpi