Ujian tengah semester

Tidak memiliki rasa cemas bukan berarti siap menghadapi semuanya. Persiapan yang tidak matang.  Apa yang telah didapatkan,hanya tersimpan dalam short term memory. Walaupun otak telah berusaha mentranslate ke dalam long term memory,nihil. Usaha yang dilakukan otak tidak sebanding dengan cara/gaya belajar dan jarak menuju ujian yang semakin dekat,merupakan salah satu faktor penyebab. Penyebab lain mungkinkah sel  otakku telah mulai mengalami nekrosis,sehingga menyebabkan daya pikirku berkurang.  TIDAK!! I dont let it happen !!!

First Paper :

Situasi ujian yang telah kuduga sebelumnya. Ketegangan,kecemasan,dan ketakutan.

Akankah kita juga merasakan hal ini saat kita menghadapi datangnya hari akhir? Just answer by your self.

Tidak terlalu pagi,aku tepat datang sebelum ujian dimulai. Waktu yang ku pilih untuk menghindari situasi kampus yang tidak kuinginkan. Tingkat kepanikan masing-masing individulah yang membuatku tidak nyaman.

Result : tidak terlalu sukses . Mungkin bisa dikatakan lim x mendekati 5,means buruk

Selama diperkuliahahan,belum pernah rasanya hatiku berkata “Wah sukses nih ujian nya”.

Kalau boleh di review sedikit. : malam hari,tidur pukul 9,mulai menghafal pada pagi harinya tepat pukul 5 pagi setelah subuh.

I dont know why,aku lebih menyukai memanfaatkan saat-saat ketika waktu terasa berlari mengejar begitu cepat untuk mereview bahan kuliahan. Pada kondisi seperti itu,aku bisa merasakan neuron bekerja secara optimal dan working hard. Memang tidak efektif,karena apa yang dipelajari dan diulas pada waktu yang singkat itu hanya berupa hafalan yang mungkin akan hilang seiring berakhirnya ujian.

But i have one thing,why i do this and let my lazzines take a place at this time. Aku beranggapan ujian,test atau apalah namanya,itu hanya sekedar mengukur seberapa kuatkah ingatan kita menghafal dan mengingat seluruh isi handout/diktat. Asumsi ini telah mendarah daging,seiring pengalaman yang aku dapatkan selama perkuliahan. Kebanyakan dosen memiliki text book  style,hal ini membuat level kemalasanku naik bertingkat-tingkat.

Ujian hari pertama,membawa efek buruk terhadap nasib ujian ku berikutnya. Walaupun aku telah berusaha menurunkaan activation energy of laziness,sia-sia. Kemalasan terus menggunung ,hingga puncaknya kita bisa melihat tidak ada lagi motivasi. No Learning,No Reading. Rasa takut untuk gagal ujian masih ada sedikit,namun terkalahkan dengan kemalasan dan pandangan ku yang telah terlanjur buruk terhadap sistem ujian. Aku pun mengabaikan semuanya.

All done

Final exam’s coming soon

Atmosfir semangat telah terasa beberapa minggu sebelum ujian dimulai. Namun hanya sebatas semangat penyambutan bukan semangat perjuangan. Walaupun ada sedikit peningkatan frekuensi belajar beberapa hari sebelum ujian.

Aku tidaklah sama dengan mesin mobil. Semakin aku panaskan mesin pada otakku,semakin aku kepanasan,yang artinya syndrom KTT muncul lagi. Kemalasan Tingkat Tinggi

Pertempuran pun dimulai,masing-masing telah menyiapkan amunisi. Selembar kertas putih siap untuk aku takhlukkan. Secara perlahan aku mengamati setiap detail pertanyan,ternyata essay,NO multiple choice. Aku mulai merasakan tachicardi dan menyekresi lebih banyak keringat pada kedua telapak tangan. Tetap calm down. Akupun berusaha me-call back memory perbincangan dengan seorang teman.

Dia,sebut saja Sinona.

Saat kamu dihadapkan dengan essay exams, jawablah seakan-akan kamu mendongengkan sebuah cerita,bebas. Keluarkan semua imajinasi dan konsep yang ada dipikiranmu. Sekalipun itu tidak sesuai dengan textbook atau handout yang diberikan.Hal yang terpenting,posisikan dirimu sebagai orang yang mengetahui segalanya. Hanya kamu yang mengetahui jawaban tersebut dan kamu bebas untuk mengungkapkannnya. Metode ini telah diaplikasikan dalam beberapa mata kuliah. Dan hasilnya wallahu alam

Penantianku berakhir,Yudisium’s day

Meeting selesai,setiap individu mulai beraksi menyergap PA masing-masing  keluar dari ruangan,berharap beliau-beliau membawa kabar baik. Akupun turut mengambil bagian.

Kali ini,PA ku kurang kooperatif. Beliau tidak memberikan celah sedikitpun untukku dan kawan-kawan lainnya. Beliau berusaha menyembunyikan hasil yang kami peroleh. Aku pun pergi dengan tangan kosong.

Secercah harapan tampak di depan mata. Segerombolan massa tampak mendekati pusaran magnet. Seorang dosen,bukan PA ku tentunya,memperlihatkan laporan hasil belajar. Aku pun langsung mengutarakan maksud hatiku. Proposal ku diterima. Jemariku mulai menelusuri sederatan nama,hingga terhenti pada sebuah nama. Aku mulai mengamati secara perlahan.

Result : hancur-hancuran selama paper period,but i can get best one. Alhamdulillah I get more than i expect .

Ketika kita tidak memiliki motivasi,saat itu lah Allah membantu kita. Memberikan pertolongan-Nya agar kita bangkit dan menginga kembali tujuan kita.