Catatan kelam per”Masak”an

Bagi kebanyakan orang,memasak merupakan suatu hal yang mudah,biasa,dan tentunya menarik. Bahkan ada yang menjadikannya suatu hobi dan kebanggaan. Tapi hal ini tentu tidak berlaku bagiku. Perempuan yang menyimpan sebuah format bahwa memasak merupakan suatu rutinitas yang menghabiskan waktu,ribet,dan tidak menarik. Yaa,kalau tidak bisa memasak,warung siap menjadi garda terdepan mengatasi usus yang mulai berkontraksi menghasilkan melodi indahnya. Sayangnya,angin terkadang tak selalu berpihak pada kita.

Suatu hari,pada tanggal yang tak bisa kuingat,kemalasan yang selama ini bercokol di dalam diriku,kini digergaji sehabis-habisnya. Tidak ada satu pun yang bisa  dikecap oleh lidah. Inilah awal titik balikku ke jalan yang benar,kembali kepada fitrah seorang perempuan. Mau tidak mau harus bisa meramu. Kali ini bukan meramu obat menjadi puyer,tapi meramu bumbu yang entah apa namanya menjadi makanan.

Yah..sepanjang sejarah per”masak”an ku,banyak hal aneh yg terjadi tentunya. Dipikir-pikir,betapa malangnya menjadi masakanku,hingga setitik embun kelezatan pun masih enggan untuk terselip di dalamnya. Baiklah sedikit akan ku bagi kisahku bersama para tentara bumbu itu

Ceritanya aku lagi penasaran dengan saus tiram,tentang bagaimana rasanya

Pagi itu seperti biasa aku mampir ke warung yang berjarak kira-kira 10 meter dari rumah. Dengan memberanikan diri aku menanyakan kepada tante pemiik warung,

“Tan,ada saus tiram?”
“itu yang digantung,paling kanan,kak!”

Pupil mataku pun membesar,memandangi satu sachet saus tiram yang kuimpikan. Dengan sigap kusambar dan tentu membayarnya. Mana mau si tante gratisan#batinku. Sebelum kabur meninggalkan warung,aku sempat menanyakan kepada si tante perihal resep yang menggunakan saus tiram. Ya,kita mesti bertanya pada ahlinya juga kan ya..Umm..Berdasarkan pengalaman si tante,saus tiram enaknya dimix dengan kangkung. wahh.. Kangkung??  Yahh..karena tidak suka,akhirnya ku putuskan mereplacenya dengan bayam. Butuh waktu satu menit melengkapi semua bahan yang kurasa diperlukan. Supaya lebih gaya,sosis sapi juga hadir dalam list belanjaku hari itu.

Singkat cerita,setelah semua bumbu dasar dimasukan,tibalah saatnya giliran si saus tiram ini. Satu sachet saus tiram tak bersisa telah tumpah kedalam penggorengan . Tasting time!!

Hasilnya :  Subhanallah,rasanya…Keasinan. Setelah dicicip,aku baru tahu,saus tiram itu….

Catatanku :

  1. Saus tiram kurang cocok dipadu dengan bayam
  2. Saus tiram cukup dimasukkan sedikit saja ke dalam masakan, jika perlu tambahkan air

Kali ini lagi penasaran dengan yang temanya “orak arik”

Mulailah aku bergerilya ditemani mbak google,teman setiaku. Sampai akhirnya perjuangan kami pun terhenti ketika bertemu dengan sebuah resep “mewah”. Mewah dalam artian bahan yang digunakan #berdasarkan sudutku memandang . Aku lupa judul masakannya,tapi tentu bahannya masih jelas dalam roll filmku. Ada susu kental manis,mentega,keju,sosis, dan telur. #Subhanallah,ini sekali makan bisa bangkrut.

Berhubung di rumah hanya ada telur dan susu,dengan terpaksa aku mesti merogoh dompetku lagi yang semakin hari semakin menipis. Bermodalkan Rp 10.000 ,mulailah matematika ku bersiap mengambil perannya. Sosis Rp 2.000,keju  Rp 4.000. Karena ceritanya dalam proses penghematan,maka mentega di black list dan digantikan dengan minyak goreng saja.

Di laboratorium percobaan. Susu kental manis mulai dimasukkan kedalam kocokan telur,minyak pun telah bersiap dipanaskan. Satu persatu bahan-bahan mulai mengadu nasibnya dalam penggorengan. Sosis,keju dan terakhir susu+telur. Dalam hitungan detik, sendok penggorengan pun meliuk-liuk seperti melewati sirkuit balapan. Dan tadaa.. Jadilah!

 Hasilnya :  Subhanallah,rasanya… Lagi-lagi keasinan,karena potongan kejunya yang terlalu besar

Kesimpulan : Sepertinya aku memiliki masalah dengan rasa asin atau asin yang memiliki masalah dengan ku. Umm… Sama saja

Begitulah segelintir catatan kelam dunia per”masak”an ku yang terus terjadi sampai hari ini. Tapi dari semua kegagalan yang ku hadapi,aku menjadi paham bahwa segala sesuatu membutuhkan proses dan keberanian untuk mencoba. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya sebelum kita mecoba. Bahkan ketika kita mau keluar dari comfort zone,kita akan menemukan sesuatu yang baru dan tentunya akan luar biasa.

3 thoughts on “Catatan kelam per”Masak”an

  1. Kebalik za, kalau ami lebih sering kurang garam, tapi itu dulu, gara2 malas buat nyicip sebelum selesai masak. sekarang sih nggak lagi, hehe :D
    saus tiramnya satu sendok aja udah enak kok, ditunggu cerita suksesnya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s